Tertarik jadi “gaming influencer”? Ini tips dan triknya

3 luncurkan pusat gaming H3RO

Karena kalau kita punya karakteristik kita yang lucu dan entertaining, kita bisa sustain banget…

Jakarta (ANTARA) – Gaming influencer menjadi salah satu pekerjaan di industri gaming yang semakin banyak dilirik oleh generasi muda, seiring dengan meningkatnya pertumbuhan unduhan game seiring meningkatnya penetrasi internet dan adopsi perangkat mobile.

Untuk memulai, hal pertama yang perlu dilakukan, menurut Gaming influencer & content creator, Ari “Kulgar,” adalah menentukan segmentasi.

“Pertama, kita itu mesti mensegmentasikan dulu kita mau masuk ke arah mana, kita mau tersegmen atau tidak. Kalau menurutku sekarang ini lebih baik tersegmen,” ujar Ari dalam “Bincang Shopee 2.2 Men Sale” secara virtual, Jumat.

Baca juga: Game Harry Potter ditunda sampai 2022

Jika memilih tersegmen, Anda dapat fokus pada satu game yang sedang ramai dimainkan, misalnya “Free Fire”. Sebab, langkah ini dapat langsung menggaet massa dari game tersebut.

Dari riset sederhana yang telah dilakukan Ari, kreator konten dari game “Free Fire” memiliki pertumbuhan jumlah pelanggan saluran (subscriber channel) paling cepat.

Sebaliknya, opsi lain adalah tidak tersegmen. Anda dapat membuat konten game dari berbagai judul game.

“Ada plus minusnya. Kalau kita tersegmen itu kita langsung dapat massa dan untuk naiknya akan mudah. Tapi, kadang kita cukup ketergantungan, ketika game tersebut sudah menurun pamornya mungkin channel YouTube kita juga akan menurun,” kata Ari.

“Berbeda kalau kita dapat massa dari semua game, tidak terfokus dalam satu game. Itu mungkin akan safety gitu, ketika salah satu game itu lagi turun, karena dia tidak terfokus dalam satu game,” Ari melanjutkan.

Baca juga: “Among Us” paling banyak diunduh 2020

Namun, dari analisa Ari, yang telah memiliki hampir 5 juta subscriber pada channel Kulgar, cukup sulit untuk menaikkan subscriber ketika mengambil banyak game atau tidak tersegmen.

Baca:  ASUS ROG kian lengkap dengan koleksi aksesori hingga keyboard wireless

Langkah selanjutnya untuk mengembangkan channel, perlu menentukan arah yang disesuaikan dengan kemampuan diri.

“Untuk di industri game sendiri ada beberapa kriteria. Satu, pro player. Pro player ini dia jadi influencer tapi dia masuk kategori pro,” ujar Ari.

Orang-orang yang dapat masuk dalam kategori ini, menurut Ari, adalah mereka yang memiliki kapasitas bermain game yang baik. Semakin jago main, semakin bagus konten, yang diikuti dengan semakin banyak viewers.

Baca juga: UNO rayakan ulang tahun ke-50, hadirkan edisi khusus

Bagi yang tidak jago bermain game, alternatif lainnya Anda dapat berbagi informasi seputar game, seperti update terbaru, atau bahkan mungkin berbagi diamond.

“Kalau aku sendiri lebih ke arah content creator tentang bocoran update. Jadi, aku harus sering research “Free Fire” akan ada update apa. Semakin cepat kita upload kontennya semakin bagus viewers-nya, karena kita bersaing dengan content creator lain,” kata Ari.

Opsi lainnya adalah, Anda dapat memilih menjadi content creator gaming casual. “Ini kita bikinnya lebih lucu-lucu, bikin prank dalam game, bikin jokes yang lucu, bercanda sama content creator lain,” ujar Ari.

Menurut Ari, opsi terakhir ini menjadi pilihan kategori “paling oke” untuk saat ini.

“Karena kalau kita punya karakteristik kita yang lucu dan entertaining, kita bisa sustain banget, dan kita bisa bikin itu tidak hanya di satu game, tapi di game-game lainnya juga. Cuman cukup sulit, karena kita perlu karakter yang memang unik, mungkin karakter jokes-nya,” dia menambahkan.

Baca juga: Xbox Game Pass tembus 18 juta pelanggan

Baca juga: Kreator “Final Fantasy XV” dan ANA kolaborasi buat tur virtual

Baca juga: Cyberpunk 2077 rilis pembaruan perbaiki “bug”

Pewarta: Arindra Meodia
Editor: Suryanto
COPYRIGHT © ANTARA 2021